
Kembali ke ‘Rumah Lama’ setelah 1 Dekade: Antara Rindu dan Tanggung Jawab
- Posted by Ahwazy Anhar
- Date 10/29/2025
- Categories Al-Azhar, Blog
- Comments 0 comment
Beberapa hari yang lalu, saya kembali menghirup udara Ciputat setelah sebulan berada di Kairo — kota yang dulu menjadi saksi perjalanan belajar saya. Tiga puluh hari yang penuh rasa campur aduk: antara nostalgia dan keheranan, antara rindu dan tanggung jawab yang tiba-tiba terasa lebih berat dari sebelumnya.
Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak terakhir kali saya meninggalkan Kairo. Tapi begitu menjejak lagi di sana, saya merasa seperti orang asing yang kembali ke rumah lamanya — rumah yang ternyata sudah banyak berubah.
Kota ini kini dikelilingi jalan layang di mana-mana. Kubri dari Sabi‘ sampai Duwaiqah, membuat jarak yang dulu terasa jauh kini bisa ditempuh lebih cepat. Kairo seolah berlari mengejar waktu.
Namun di balik perubahan fisik itu, ada hal lain yang membuat saya tertegun lebih lama — nilai Geneh yang merosot tajam. Dulu, satu Geneh setara dengan 1.500 rupiah, sekarang hanya sekitar 350. Tapi anehnya, meski secara angka jatuh begitu dalam, kehidupan mahasiswa Indonesia di sana tetap berjalan seperti biasa. Kebutuhan hidup mereka rata-rata masih berkisar di angka dua juta per bulan, tergantung bagaimana mereka mengatur diri.
Tapi bukan itu yang paling membuat saya berpikir.
Yang paling menggetarkan hati adalah ketika saya tahu, jumlah mahasiswa Indonesia di Mesir kini mencapai 25.000 orang, dengan sekitar 5.000 mahasiswa baru yang datang tahun ini.
Angka yang luar biasa besar — dan sekaligus menakutkan, jika tidak dipersiapkan dengan baik.
Saya sempat lama terdiam. Karena di antara angka-angka itu, ada wajah-wajah muda yang penuh harapan. Anak-anak yang meninggalkan keluarganya, menyeberangi benua, membawa impian dan doa dari rumahnya masing-masing. Mereka datang dengan semangat, tapi juga kebingungan. Banyak yang mencari tempat untuk berlabuh — tempat yang bisa memahami, menuntun, dan membuat mereka merasa tidak sendirian.
Di titik itulah saya merasa: kalau saya diam, saya berdosa.
Sebagai alumni yang dulu juga dibesarkan oleh Al-Azhar, saya tidak bisa hanya melihat generasi baru berjalan sendiri tanpa arah.
Saya tahu betul, betapa mudahnya tersesat di Kairo — bukan hanya di jalan-jalan sempitnya, tapi juga dalam arah hidup.
Maka selama 30 hari itu, saya memilih untuk tinggal lebih lama.
Saya ingin kembali menyentuh denyut kehidupan mahasiswa Indonesia di sana. Saya ingin mendengar cerita mereka, duduk di antara mereka, dan menyerap apa yang benar-benar mereka butuhkan hari ini.
Saya ingin Markaz Mehira Mesir bukan sekadar lembaga, tapi rumah.
Rumah tempat mahasiswa baru bisa belajar bertumbuh — bukan hanya secara bahasa dan akademik, tapi juga secara mental dan arah hidup. Karena belajar di Al-Azhar tidak cukup hanya paham kitab, tapi juga paham realita.
Itu sebabnya, di Markaz Mehira Indonesia kami terus berfokus membangun pondasi bahasa Arab dengan kuat.
Lalu, ketika mereka sudah sampai di Kairo, Markaz Mehira Mesir hadir untuk menuntun mereka memahami kehidupan nyata — agar ilmu yang mereka pelajari nanti bisa kembali hidup di masyarakat.
Saya juga sempat mengadakan seminar kecil tentang Strategi Digital Marketing Dakwah.
Saya ingin menanamkan kesadaran bahwa cepat atau lambat, alumni Al-Azhar akan menjadi rujukan umat. Masyarakat akan datang bertanya, bahkan sebelum mereka sempat siap. Maka daripada hanya menunggu, lebih baik mulai belajar menyampaikan kebaikan sejak sekarang — dengan cara yang relevan di zaman ini.
Dari seminar itu, kami lanjutkan dengan mentoring enam bulan. Tidak banyak, tapi cukup untuk menyalakan api kecil di hati para mahasiswa agar sadar: dakwah di era digital ini adalah amanah baru.
Saya berharap, dari langkah kecil itu, lahir generasi Azhari yang tak hanya cerdas secara ilmu, tapi juga hangat dalam menyampaikan kebaikan.
Saya tahu, perubahan besar tidak akan terjadi dalam semalam. Tapi saya percaya, langkah kecil yang dilakukan dengan hati akan sampai lebih jauh dari yang kita bayangkan.
Untuk teman-teman yang kini sedang belajar di sana, teruslah berjuang.
Dan untuk adik-adik yang akan datang nanti — semoga kalian menemukan rumah yang membuat kalian tidak merasa sendirian.
Jika suatu hari kalian merasa lelah, bingung, atau kehilangan arah, datanglah ke Markaz Mehira.
Kami di sini tidak ingin menjadi lembaga besar, kami hanya ingin menjadi tempat yang membuat kalian bertumbuh dengan tenang.
Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju generasi Azhari yang lebih matang, lebih siap, dan lebih bermanfaat untuk umat.
—-
Catatan Perjalanan Ahwazy Anhar
Tangerang Selatan, 22.10 WIB, 28 Oktober 2025



